*Refleksi
Pemilukada Bengkalis 2015
Memandang
Negeri Petro Dolar dari Bengkalis
Oleh : SUKARDI
Foto : Tahapan Debat Kandidat Pasangan Calon (Paslon) Pemilukada Bengkalis serentak Tahun 2015 yang dilaksanakan KPU Bengkalis beberapa waktu lalu.(sukardi)
PESTA
DEMOKRASI di Negeri Junjungan Kabupaten Bengkalis berangsur
menuju klimaknya. Tinggal menunggu jadwal penetapan Calon Bupati dan Wakil
Bupati terpilih hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Bengkalis Tahun
2015 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bengkalis. Sudah barang tentu, Pasangan Calon (Paslon)
yang meraih suara terbanyak menjadi pemimpin negeri.
Siapa
lagi, kalau bukan Paslon yang dikenal dengan slogan AM-Mantap. Paslon nomor
satu ini, unggul telak dengan perolehan suara 99.213 suara dari delapan
kecamatan. Kemudian, diurutan kedua suara terbanyak hasil pemilihan langsung
diisi Paslon Sulaiman-Noor Charis Putra. Pasangan dengan slogan SNI ini mampu
meraih 59.097 suara. Calon bupatinya Sulaiman Zakaria yang punya catatan dua
kali nyalon, dua kali gagal.
Sulaiman
Zakaria adalah mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Bengkalis di Tahun 2002 sampai
2010. Popularitasnya, sangat kental, dan masih dikenal oleh masyarakat Pulau
Bengkalis, meliputi Kecamatan Bengkalis dan Bantan. Garis keturunannya, memang
dilahirkan dan dibesarkan di Bengkalis, lahir pada 8 September 1950, di Jalan
Almuslihun. Namun, di Pemilukada Tahun 2015 ini, Sulaiman Zakaria bersama wakil
bupati pasangannya Noor Charis Putra asal “Negeri Seribu Kubah” hanya mampu
meraih 59.097 suara dan menang telak di kandang.
Perolehan
suara pemilih di Pulau Bengkalis begitu besar untuk Sulaiman, khusus Kecamatan
Bantan meraih 11.661 suara mengalahkan tiga pesaingnya. Kemudian, di Kecamatan
Bengkalis juga unggul dengan suara sah 20.534 suara. Sedangkan dikantong suara
enam kecamatan lainnya harus mengakui keunggulan dua paslon lainnya. Perolehan
itu, Sulaiman menang kandang.
Sementara
paslon nomor urut 2 dengan slogan HR, Herliyan-Riza Pahlefi, berada di juru
kunci perolehan suara dengan meraih 58.861 suara. Calon dengan latar belakang
pernah menjabat bupati selama lima tahun di Tahun 2010 sampai 2015 ini, pada
kenyataannya benar-benar kehilangan popularitas. Dimata masyarakat Kabupaten
Bengkalis tidak lagi populer. Tapi dimata masyarakat empat Kecamatan yakni
Bukitbatu, Siak Kecil, Rupat dan Rupat Utara masih menginginkan Herliyan
melanjutkan programnya. Karena dalam perhitungan suara, HR unggul di empat
kecamatan tersebut.
Lagi-lagi,
Paslon HR juga “menang kandang” dikantong suaranya. Mantan Bupati Bengkalis
ini, lahir dan dibesarkan di Lubuk Muda, Kecamatan Bukitbatu menang suara di
Kecamatan Bukitbatu. Tentunya sejarah ini juga tak bisa dilupakan, calon yang
diusung tiga Parpol besar, PAN, GERINDRA, dan HANURA ini harus mengakui
keunggulan Paslon Amril Mukminin-Muhammad yang diusung koalisi Parpol
minoritas.
Belum
lagi dengan popularitas Herliyan yang pernah menjabat lima tahun sebagai Bupati
Bengkalis. Melalui pencitraan dan sejumlah program selama menjabat bupati.
Mulai dari Program Usaha Ekonomi Desa (UED) Simpan Pinjam, Program Inbup-PPIP,
dan program penguatan infratruktur jalan, jembatan, dan sarana pedesaan.
Kemudian, program infrastruktur tahun jamak Multiyears (My). Sayangnya,
sejumlah program itu tidak mendongkrak elektabilitas Herliyan dimata
masyarakat, justru sebaliknya lebih mendominan isu-isu yang sifatnya
pelanggaran hukum, korupsi, kolusi dan nepotisme oleh penguasa.
Paslon
yang unggul atas rekapitulasi perhitungan suara oleh KPU Bengkalis, adalah
calon penguasa. Sebuah demokrasi yang sangat berhasil terjadi di Kabupaten
Bengkalis. Meski ending dari demokrasi yang terjadi, semata-mata hanya
mengkedepankan emosional, dan mengkesampingkan sifat rasional pemilih. AM-Mantap,
Paslon nomor urut 1 ini mengungguli hasil perolehan dari dua Paslon yang ikut
bertarung di Pemilukada Bengkalis, pada Rabu tanggal 9 Desember 2015 lalu.
AM-Mantap,
slogan Paslon Bupati dan Wakil Bupati Amril Mukminin-Muhammad ini, mengantarkan
pasangan ini menuju kursi 1 Kabupaten Bengkalis. Modal meraih suara sebanyak
99.213 suara. Menang telak dikampung kelahiran dan mewakili isu kedaerahan
yakni Kecamatan Mandau (Duri) dan Kecamatan Pinggir, di dua kecamatan ini,
AM-Mantap bisa dikatakan mumpuni, menang 50.985
suara di Mandau, dan 24.209 suara di Kecamatan Pinggir.
Keunggulan AM-Mantap di Kecamatan Pinggir, tanah kelahiran Calon
Bupati Amril Mukminin persentasenya sangat besar. Hampir mencapai kurang lebih
80 persen masyarakat pemilih memberikan kepercayaannya ke Amril Mukminin-Muhammad.
Begitu juga di Kecamatan Mandau yang dikenal dengan negeri Petro Dolar, kaya
minyak bumi, karena Mandau tempat berdiri perusahaan minyak asing PT. Chevron
Pasific Indonesia (CPI). Sekitar 70
persen, suara pemilih di Kecamatan Mandau mendominasi memilih nomor urut 1 ini
sebagai calon pemimpin Negeri Junjungan.
Kecamatan Mandau lebih akrab disebut Duri, nama tersohor yang
dikenal pejabat tingkat Pusat itu adalah salah satu lading minyak di Provinsi
Riau. Ladang Minyak Duri, telah dieksploitasi sejak tahun 50-an dan masih
berproduksi. Bersama Minas, dan Dumai, Duri menyumbang sekitar 60 persen
produksi minyak mentah Indonesia, dengan rata-rata produksi saat ini 400
ribu-500 ribu barel per hari. Perusahaan tambang minyak CPI ini, dulu dikenal
dengan Duri Steam Flood Field, di
Tahun 1958 sempat mencapai rekor produksi dengan angka 2 miliar barel.
“Demokrasi yang tercipta di Kabupaten Bengkalis, dari pengamatan
saya hanya mengkedepankan emosional, dan mengkesampingkan rasionalnya. Pemilih
belum bisa mengkalkulasinya dengan baik. Namun, hasil Pemilukada ini saya nilai
sudah maksimal, disisi lain cukup memprihatinkan. Kenapa saya katakana
memprihatinkan, karena kalangan Intelektual masih belum bisa mengambil sisi
keberhasilan Pemilukada secara utuh,”kata Sekretaris Gerakan Riau Bersatu (GRB)
Suryanto Bakri, SH, Sabtu (19/12) akhir pekan lalu yang menyikapi hasil
perolehan suara sah tiga Paslon di Pemilukada Bengkalis.
Ia juga menilai, dari kaca mata politik. Misi dan visi
masing-masing calon sama sekali belum jelas, dari awal kampanye hingga
pencoblosan, pemilih lebih cendrung menonjolkan
sisi keburukan masing-masing Paslon. Sementara, ruang demokrasi terbuka lebar,
hanya saja peluang itu menjadi terkotak-kotak akibat rasa memiliki yang masih
kurang.
“Otonomi daerah selalu saja melahirkan kartel-kartel, rasa
memiliki daerah sangat kurang. Paling tidak seharusnya calon-calon pemimpin
itu, jika nanti menjadi pemimpin, maka hendaknya tidak membunuh visi dan misi
pemimpin terdahulunya. Memang dalam politik, seperti yang dikutip Thomas Hobbes dalam karyanya berjudul De Cive, Homo Homini Lupus, bahasa latin yang berarti, manusia adalah
serigala bagi sesama manusia lainnya, nah ini yang lebih dominan terjadi di
daerah berkembang,”paparnya.
Pria kelahiran Desa Selatbaru, Kecamatan Bantan ini menjelaskan,
harusnya dengan kondisi keterpurukan ekonomi saat ini, prinsip demikian
diimbangi dengan prinsip-prinsip yang brilian.
“Pernyataan penjabat Bupati sangat brilian, diberbagai
kesempatan mengatakan, hidupkan lampu kita, jangan matikan lampu orang lain,
nah saya rasa prinsip ini lebih mengkdepankan konsep intelektual serta mindset
di kehidupan berbangsa, dan bernegara,”tutup pria ”kata pria kelahiran
Selatbaru, Kecamatan Bantan ini.
Kursi
Mandau Maksimal
Sebagian masyarakat
Bengkalis yang hidup sehari-hari dengan berprofesi mulai dari PNS, Swasta, Nelayan,
Petani, dan Pedagang, turut mengkoreksi hasil Pemilukada Bengkalis yang sudah
terlaksana, dan tinggal menunggu penetapan calon terpilih yang dalam beberapa minggu
lagi dilaksanakan. Bicara pembangunan khusus di Pulau Bengkalis yang menjadi pusat
perkantoran pemerintahan, diperkirakan akan kembali menjadi tuntutan masyarakat
Mandau.
Masih
terlintas dalam ingatan, di Tahun 2012 akhir, ketika setahun kepemimpinan
Bupati Herliyan Saleh-Suayatno. Disalah satu Hotel berbintang di Kecamatan
Mandau, terjadi debat kusir yang cukup menegangkan. Salah seorang warga Duri,
memprotes keras Bupati Herliyan, dengan lantangnya berargumen bahwa peserta
menawarkan kepada Bupati agar berkantor di Duri saja, jika situasi di Ibukota
Bengkalis tidak mengizinkan untuk menjalankan aktivitas.
Tawaran
itu ternyata diterima Bupati Herliyan, dengan alasan pertimbangan dan jika itu
benar-benar terjadi dirinya akan terlebih dahulu melibatkan berbagai pihak dan
elemen masyarakat guna meraih persetujuan. Tawaran itu bukan harga mati, tetap
saja tawaran menjadikan Mandau sebagai Kabupaten itu lah yang sebenarnya
menjadi tuntutan warga disana, dengan melihat sisi manfaat dan modaratnya.
“Saya
memandang. Lambat laun, Kabupaten Mandau itu bisa terwujud, paling tidak lima
tahun kedepan, atau satu priode kepemimpinan bupati,”kata Suhendry Senoaji,
politisi PKPI yang ikut menunggu pemekaran Kecamatan Mandau, dengan alasan akan
menguntungkannya sebagai Caleg di Tahun 2014 lalu.
Menurutnya,
keterwakilan 26 anggota DPRD Bengkalis Dapil Mandau-Pinggir ini sangat cukup
untuk mewujudkan Daerah Otonomi Baru (DOB). Lantaran, dari hasil survey hampir 100
persen anggota DPRD Bengkalis Dapil Mandau-Pinggir itu berdomisili di dua
kecamatan dengan jumlah pemilih paling banyak dari enam kecamatan lainnya.
”Nah,
disini kita bisa melihat, dan memandang Mandau itu dari Pulau Bengkalis
nantinya,”tutur pria yang akrab disapa Hendry, saat bincang-bincang kepada
Posmetro Mandau.
Sepanjang
sikap para calon bupati, masih menunjukkan belum dewasa. Saling membuka
keburukan, dan saling mengklaim bahwasanya dirinya hebat dan benar dengan
program-programnya. Maka salah satu kualifikasi pemimpin tidak akan terwujud
dengan baik.
Sebab,
salah satu kualifikasi pemimpin yang baik dan amanah itu adalah, membuat
rakyatnya makin sejahtera, dan bukan mengklaim sebagai jasa atau kebaikannya,
tapi lebih merupakan kewajibannya. Kalau tidak begitu, buat apa memilih dan dipilih
bagi para masyarakat pemilih di Pemilukada langsung. Belum lagi, masa jabatan
seorang bupati yang terbatas hanya lima tahun menjabat. Masalahnya, mampukah
Bupati terpilih itu selama lima tahun membangun negeri? Tentu jawaban
masyarakat butuh bupati sekaligus pemimpin.(***)





